Peraturan di Kantor yang Tidak Harus Ditepati
Jadi penggosip, merupakan peraturan di kantor yang tidak harus ditepati
ADA banyak peraturan di kantor yang akan berakibat fatal jika tidak Anda jalankan. Namun ada pula beberapa peraturan yang lebih fleksibel, bahkan mungkin akan menguntungkan jika Anda langgar.
Ada kalimat yang mengatakan “peraturan dibuat untuk dilanggar”. Tentu kalimat ini kadang menyesatkan. Anmun, kadang pula ada benarnya. Menurut Robert Half International, firma multinasional yang berfokus pada pengelolaan staf dan SDM, melanggar peraturan kadang dilakukan untuk menyelamatkan kita dari kondisi yang lebih buruk lagi.
Seperti apakah peraturan-peraturan yang boleh dilanggar tersebut, barikut lima peraturan yang dimaksud Robert Half International yang dikutip dari Careerbuilder.
1. Semakin lama bekerja di kantor, semakin Anda akan sukses berkarier
Kalimat ini memang terdengar logis. Namun tidak selamanya terjadi. Berada terlalu lama di kantor bukan berarti bahwa produktivitas kerja Anda meningkat atau kualitas kerja Anda semakin baik. Bahkan terlalu lama bekerja di kantor bisa menjadi indikasi bahwa Anda tidak mampu bekerja secara efisien alias tidak mampu memanfaatkan waktu dengan baik.
Satu hal lagi, waspadai kelelahan yang amat sangat jika Anda banyak menghabiskan waktu di kantor. Jika Anda melakukannya sekali atau dua kali mungkin tidak masalah. Namun jika berlama-lama bekerja di kantor menjadi sebuah kebiasaan, maka akan membuat Anda stres, tertekan, dan mungkin mengalami gangguan kesehatan.
Jika tanda-tanda ini sudah menyerang Anda, cobalah meminta atasan untuk mengirimkan bantuan atau mengalihkan tanggung jawab kepada rekan yang lain.
2. Ambil tanggung jawab baru
Memang, menawarkan diri untuk mengerjakan proyek-proyek baru adalah cara terbaik untuk mendapatkan keahlian baru dan “dilihat” oleh atasan. Tapi jika setiap proyek baru Anda ambil tanpa pemikiran yang panjang, maka Anda bisa terancam terkena penyakit lelah.
Daripada membabi buta mengambil semua proyek, lebih baik ambil proyek yang benar-benar Anda siap mengerjakannya dan benar-benar akan berpengaruh dengan karier Anda. Yang paling penting, jangan pernah menjanjikan sesuatu lalu melanggar janji tersebut.
Karena itu, berpikirlah matang-matang sebelum mengambil sebuah proyek. Apakah Anda memiliki pengetahuan, keahlian, dan pengalaman sebagai dasar untuk mengerjakan tanggung jawab tersebut? Jangan sampai nantinya Anda malah tak mampu mengerjakan tugas dengan baik dan dianggap gagal mengerjakan proyek tersebut.
3. Jika mendapat tawaran promosi, segera ambil!
Tentu merupakan penghargaan yang besar jika atasan atau manajemen perusahaan memuji hasil kerja Anda dan menawarkan peningkatan jabatan. Namun sebelum tergesa-gesa menerimanya, sebaiknya Anda teliti dulu tentang jabatan baru yang ditawarkan.
Apakah jabatan tersebut sesuai dengan minat Anda? Misalnya, jika Anda ditawari jabatan di departemen manajemen, itu artinya Anda tidak lagi mengerjakan pekerjaan secara langsung. Tugas Anda sepanjang hari hanya memonitor dan memastikan anak buah Anda bekerja dengan baik.
Nah siapkah Anda melakukannya? Juga pertimbangkan keseimbangan kerja dengan kehidupan pribadi. Jika Anda adalah seorang ibu yang bekerja, siapkah Anda menghabiskan waktu lebih lama untuk bekerja dan mengurangi waktu berkumpul bersama anak atau keluarga?
4. Selalu fokus
Supervisor atau manajemen Anda bisa jadi adalah orang yang paling berperan dalam kesuksesan karier Anda. Dia selalu bisa melambungkan nama Anda di ajjaran manajemen perusahaan.
Namun yang harus Anda ingat, kesuksesan Anda juga dipengaruhi oleh rekan kerja yang pernah dan selalu membantu Anda. Atau orang-orang di departemen lain yang turut andil membantu Anda dalam bekerja. Jadi, jangan lupa untuk menjaga hubungan baik dengan mereka dan membuat mereka senang dengan kehadiran Anda di sekitar mereka.
5. Jangan jadi penggosip
Anda tentu tak ingin dicap sebagai biang gosip, tapi nyatanya tetap menjaga hubungan baik dengan rekan kerja adalah hal yang penting. Tetaplah berkumpul dengan mereka saat makan siang atau saat perkumpulan setelah jam kerja.
Yang penting, Anda harus menjaga hubungan tersebut sesuai batasnya. Jika kegiatan dengan mereka sudah mulai mempengaruhi kinerja atau produktivitas Anda atau justru merusak hubungan Anda dengan rekan yang lain, maka jagalah jarak dengan mereka.
Seputar Wanita Indonesia
Selamat Datang di Blog Wanita Indonesia Seutuhnya
Selasa, 25 Oktober 2011
Senin, 24 Oktober 2011
Misi Hidup Dalam Sebuah Kerja
Misi Hidup Dalam Sebuah Kerja
Seorang wanita tua, bertubuh gemuk, dengan senyum jenaka di sela-sela pipinya yang bulat, duduk menggelar nasi bungkus dagangannya. Segera saja beberapa pekerja bangunan dan kuli angkut yang sudah menunggu sejak tadi mengerubungi dan membuatnya sibuk meladeni. Bagi mereka menu dan rasa bukan soal, yang terpenting adalah harganya yang luar biasa murah.
Hampir-hampir mustahil ada orang yang berdagang dengan harga sedemikian rendah. Lalu apa untungnya? Wanita itu terkekeh menjawab, “Bisa numpang makan dan sedikit beli sabun”. Tapi bukankah ia bisa menaikkan harga sedikit? Sekali lagi ia terkekeh, “lalu bagaimana kuli-kuli itu bisa beli? Siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka?”, katanya sambil menunjukkan para lelaki yang kini berlompatan ke atas truk pengantar mereka pergi ke tempat kerja.
Ah! Betapa cantiknya, bila sebongkah misi hidup dipadukan dalam sebuah kerja. Orang-orang yang memahami benar kehadiran karyanya. Sebagaimana wanita tua di atas, yang bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia, adalah tiang penyangga yang menahan langit agar tidak runtuh. Merekalah beludru halus yang membuat jalan hidup yang tampak keras berbatu ini menjadi lembut bahkan mengobati luka. Bukankah demikian tugas kita dalam kerja menghadirkan secercah kesejahteraan bagi sesama.
Dapatkah kita seperti wanita tua itu? ataukah kita hanya menjadi seorang yang egois yang mementingkan isi perut sendiri? Hidup itu adalah pilihan. Misi hidup tergantung dari pribadi masing-masing. Baiknya kita bisa melakukan yang terbaik untuk sesama kita.
Seorang wanita tua, bertubuh gemuk, dengan senyum jenaka di sela-sela pipinya yang bulat, duduk menggelar nasi bungkus dagangannya. Segera saja beberapa pekerja bangunan dan kuli angkut yang sudah menunggu sejak tadi mengerubungi dan membuatnya sibuk meladeni. Bagi mereka menu dan rasa bukan soal, yang terpenting adalah harganya yang luar biasa murah.
Hampir-hampir mustahil ada orang yang berdagang dengan harga sedemikian rendah. Lalu apa untungnya? Wanita itu terkekeh menjawab, “Bisa numpang makan dan sedikit beli sabun”. Tapi bukankah ia bisa menaikkan harga sedikit? Sekali lagi ia terkekeh, “lalu bagaimana kuli-kuli itu bisa beli? Siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka?”, katanya sambil menunjukkan para lelaki yang kini berlompatan ke atas truk pengantar mereka pergi ke tempat kerja.
Ah! Betapa cantiknya, bila sebongkah misi hidup dipadukan dalam sebuah kerja. Orang-orang yang memahami benar kehadiran karyanya. Sebagaimana wanita tua di atas, yang bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia, adalah tiang penyangga yang menahan langit agar tidak runtuh. Merekalah beludru halus yang membuat jalan hidup yang tampak keras berbatu ini menjadi lembut bahkan mengobati luka. Bukankah demikian tugas kita dalam kerja menghadirkan secercah kesejahteraan bagi sesama.
Dapatkah kita seperti wanita tua itu? ataukah kita hanya menjadi seorang yang egois yang mementingkan isi perut sendiri? Hidup itu adalah pilihan. Misi hidup tergantung dari pribadi masing-masing. Baiknya kita bisa melakukan yang terbaik untuk sesama kita.
Temukan Cinta Anda
Temukan Cinta Anda
Bila anda tak mencintai pekerjaan anda, maka cintailah orang-orang yang bekerja di sana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu. Dan, pekerjaan pun jadi menggembirakan. Bila anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja anda, maka cintailah suasana dan gedung kantor anda. Ini mendorong anda untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi.
Bila toh anda tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja anda. Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga. Namun, bila anda tak menemukan kesenangan di sana, maka cintai apapun yang bisa anda cintai dari tempat kerja anda: tanaman penghias meja, cicak di atas dinding, atau gumpalan awan dari balik jendela.
Apa saja. Bila anda tak menemukan yang bisa anda cintai dari pekerjaan anda, maka mengapa anda di situ? Tak ada lagi alasan bagi anda untuk tetap bertahan. Cepat pergi dan carilah apa yang anda cintai, lalu bekerjalah di sana. Hidup hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus.
Bila anda tak mencintai pekerjaan anda, maka cintailah orang-orang yang bekerja di sana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu. Dan, pekerjaan pun jadi menggembirakan. Bila anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja anda, maka cintailah suasana dan gedung kantor anda. Ini mendorong anda untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi.
Bila toh anda tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja anda. Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga. Namun, bila anda tak menemukan kesenangan di sana, maka cintai apapun yang bisa anda cintai dari tempat kerja anda: tanaman penghias meja, cicak di atas dinding, atau gumpalan awan dari balik jendela.
Apa saja. Bila anda tak menemukan yang bisa anda cintai dari pekerjaan anda, maka mengapa anda di situ? Tak ada lagi alasan bagi anda untuk tetap bertahan. Cepat pergi dan carilah apa yang anda cintai, lalu bekerjalah di sana. Hidup hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus.
Minggu, 23 Oktober 2011
Garam dan Telaga
Garam dan Telaga
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Lalu ia mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu dalam ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya...”, ujar Pak Tua itu.
“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah ke samping.
Pak Tua itu sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga di dalam tengah hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.
“Segar”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama”.
“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua kan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.
Sumber: Cerita Iman dan Inspiraasi Nyata
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Lalu ia mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu dalam ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya...”, ujar Pak Tua itu.
“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah ke samping.
Pak Tua itu sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga di dalam tengah hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.
“Segar”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama”.
“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua kan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.
Sumber: Cerita Iman dan Inspiraasi Nyata
Jalan Pintas
Jalan Pintas
Keberhasilan tak diperoleh begitu saja. Ia adalah buah dari pohon kerja keras. Jangan terlalu berharap pada kemujuran. Tahukah anda apa itu kemujuran? Bukankah, kita tak selalu mampu menjelaskan dari mana datangnya kemujuran.
Sadarilah bahwa segala sesuatu perlu berjalan alami dan semestinya. Pertumbuhan diri adalah proses mendaki tangga. Anda harus melalui anak tangga satu per satu. Tak perlu repot mencari-cari jalan pintas, karena tak ada jalan pintas.
Hargai saja setiap langkah kecil yang membawa anda maju. Ketergesaan adalah beban yang memberati langkah saja.
Amatilah jalan lurus anda. Tak peduli bergelombang atau berbatu, selama anda yakin berada di jalan yang tepat, maka melangkahlah terus. Dan, jalan yang tepat itu adalah jalan yang menuntun anda menjadi diri anda sendiri.
Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki.
(Mahatma Gandhi)
Orang yang jujur akan tetap jujur, termasuk dalam bidang politik.
(Mahatma Gandhi)
Sumber: Cerita Iman dan Inspirasi Nyata
Keberhasilan tak diperoleh begitu saja. Ia adalah buah dari pohon kerja keras. Jangan terlalu berharap pada kemujuran. Tahukah anda apa itu kemujuran? Bukankah, kita tak selalu mampu menjelaskan dari mana datangnya kemujuran.
Sadarilah bahwa segala sesuatu perlu berjalan alami dan semestinya. Pertumbuhan diri adalah proses mendaki tangga. Anda harus melalui anak tangga satu per satu. Tak perlu repot mencari-cari jalan pintas, karena tak ada jalan pintas.
Hargai saja setiap langkah kecil yang membawa anda maju. Ketergesaan adalah beban yang memberati langkah saja.
Amatilah jalan lurus anda. Tak peduli bergelombang atau berbatu, selama anda yakin berada di jalan yang tepat, maka melangkahlah terus. Dan, jalan yang tepat itu adalah jalan yang menuntun anda menjadi diri anda sendiri.
Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki.
(Mahatma Gandhi)
Orang yang jujur akan tetap jujur, termasuk dalam bidang politik.
(Mahatma Gandhi)
Sumber: Cerita Iman dan Inspirasi Nyata
Langganan:
Postingan (Atom)